pengalaman bercinta

Veni seorang wanita yang selalu membahagiakan suami. Aku mengenal Veni dari masa sekolah dulu, kami awalnya adalah teman biasa dan kemudian berpacaran. Pacarku saat itu bukan hanya Veni, aku memiliki beberapa pacar, di antaranya sebut saja Indi yang merupakan sepupu dari Veni dan ia sekarang tinggal bersamaku. Aku dan Veni memiliki kisah yang cukup banyak, kami dulu sering berdua, maklumlah cinta masa muda dipenuhi dengan tantangan, kami sering berdua sehabis selesai sekolah.

Kebetulan kemerdekaan saat itu benar-benar kami rasakan, karena orang dan saudara kami sibuk dengan aktivitasnya. Awalnya kami hanya berjalan berdua, lalu bergandengan tangan, duduk berduaan, berpelukan, berciuman, dan akhirnya ia menyerahkan keperawanannya, dan hubungan ini adalah yang pertama buat kami. Ternyata kami ketagihan, setiap malam Minggu kami lakukan dengan pakaian lengkap. Ia selalu memakai rok, sehingga tangan serta milikku dapat leluasa masuk ke dalam tubuhnya, ini merupakan kenangan indah kami. Tapi yang paling kusuka bila selesai pulang sekolah, sebab di rumah kami selalu kosong, kami leluasa. Di saat itu aku dapat melucuti pakaiannya satu persatu sampai aku memuntahkan cairanku, aku menikmatinya. Aku puas menikmati tubuhnya berjam-jam tanpa sehelai pakaian. Yang paling kusuka adalah saat aku ulang-tahun, ia selalu memberi hadiah yang istimewa, mengundang datang ke rumahnya dan hadiah langsung, yaitu tubuhnya yang tanpa sehelai kain pun dan aku diajak ke lantai atas rumahnya, untuk menikmati hadiah istimewanya.

Memang awalnya aku takut berhubungan badan, setelah sering dengan Veni, aku malah ketagihan. Akhirnya aku dan Veni lulus sekolah dan kami kuliah. Saat itu aku memiliki kenalan baru di telepon, ia adalah teman dari temannya Veni waktu di sekolah, ia sering menghubungiku dan meminta tolong supaya aku mencari kabar tentang cowoknya, sebab cowokya anak kampusku dan sudah lama tidak bertemu. Namanya Reyne dan awalnya kami hanya berbincang biasa, lama kelamaan kami akrab dan berbicara bebas. Akhirnya kudapati dengan samar-samar kabarnya, dan ternyata cowoknya telah memiliki pacar baru, dan aku minta cerita tersebut dibarter dengan hadiah. Ia berjanji akan memberi hadiah. Awalnya aku bercanda kalau hadiahnya Reyne, dan Reyne menyanggupinya sambil bercanda. Kami hanya berbincang ditelepon dan belum pernah bertemu, entah setelah beberapa lama kami sepakat bertemu, dan Reyne berterima kasih kepadaku atas bantuanku dan akan memberikan hadiah yang ia janjikan, entah apa hadiah itu.

Akhirnya kami bertemu di suatu tempat lalu ke rumahku yang kebetulan kosong waktu itu (keluargaku berlibur ke daerah). Kami mengobrol, aku bertanya bahwa hadiahnya dimana, lalu jawabnya adalah hadiahnya belum ada dan apa yang kumau. Lalu kami berdua berbincang panjang lebar, aku menanyakan dan meminta hadiah darinya, aku meminta cumbuan sebagai hadiahnya sambil bercanda tapi entah mengapa kami menjadi serius. Awalnya ia tidak merespon, tapi setelah beberapa lama ia terima permintaanku. Akhirnya aku mengambil kadoku, aku bertanya sambil tanganku mengarah ke dada kanannya, “Ini boleh kan?” lalu Reyne menjawab, “Boleh!” dengan tegang. Tanpa basa-basi dan birahi yang berkembang aku menyentuh dadanya, memang tidak terlalu besar sekali tapi aku suka petualangan ini. Lalu kuusap-usap dan perlahan kuangkat kaosnya hingga terlihat BH-nya, lalu kubuka kaitan BH-nya dan kuangkat tinggi sehingga kedua buah dada serta putingnya dapat kunikmati dengan mataku dengan jelas.

Kuraba-raba dan kuremas-remas sampai puting dan dadanya mengeras, wajahnya memucat dan tegang tapi tampaknya Reyne menikmati sentuhanku. Lalu aku menawarkan menonton film, dan ia mau nonton film. Aku bergegas mengambil film, tetapi yang kuambil adalah film XX. Kuambil film tersebut lalu kembali ke tempat dimana aku merasakan tubuh Reyne, kulihat ia sudah menutup kembali buah dadanya seperti semula. Aku agak kecewa, tapi tak apalah. “Kita nonton ini ya,” sahutku, lalu kusetel dan segera duduk di sampingnya. Reyne tak tahu film apa yang kusetel, film belum mulai, aku kembali meraba-raba dadanya yang tertutup seperti semula, lalu film pun dimulai. “Ini nggak apa-apa kan?” tanyaku sesaat. “Asal bagus, aku suka,” jawabnya.

Film pun dimulai seiring tanganku yang meraba-raba tubuhnya, tampaknya ia menyukai film yang kusetel. Tangannya ke pundakku, lalu wajahnya ke dadaku sambil berkata, “Filmnya, ah..” kulihat tubuhnya tegang, lalu tangan kananku mengangkat dan menarik dagunya dan bibirnya perlahan ke bibirku. Akhirnya bibirnya kukecup dan kami berciuman bersama nafsu kami, tanganku tak henti-henti meraba-raba tubuhnya dan melakukan pekerjaan awal lagi, kulepas kaitan BH-nya, lalu kuangkat bersama kaosnya sehingga mata dan tanganku dapat menikmati buah dadanya secara langsung. Kulepas sesaat bibirku dari bibirnya, lalu kuhisap kedua putingnya secara bergantian, setelah itu kukecup bibirnya lagi, dan kami berciuman lagi.

Lidah dan bibir kami bersaing menyerang, bersama tanganku yang terus meraba-raba tubuhnya. Ternyata tangannya tak mau kalah, segera milikku didekap jemarinya dan dimainkan. Birahi kami pun terus bertambah, tanganku tampaknya sudah tak tahan. Secara bertahap kubuka ikat pinggangnya, tapi ia menolak halus dan bekata, “Jangan!” dengan ucapan lembut. Tampaknya gairahku tak dapat kutahan, kujawab, “Nggak apa-apa,” lalu kukecup bibirnya dengan nafsu, ia pun mengimbangiku. Tanganku tetap membuka ikat pinggangnya, tanganya menolak dengan halus dan menghentikan sementara, tapi tak benar-benar menahan tanganku. Akhirnya ikat pinggangnya kulepas. Tangannya masih menahan halus, perlahan kubuka kancing celananya dan resletingnya kutarik perlahan sampai habis, lalu jemari tanganku menyusup ke dalam celananya, kurasakan bulunya yang lebat. Aahh, getaran birahiku, kuraba-raba bulu halusnya, ia menikmatinya.

Kulihat matanya dipejamkan perlahan, kurasakan hasratnya bergairah. Kuteruskan perjalanan jemariku, terus menyusup di dalam CD-nya, akhirnya sampai ke tonjolan sensitifnya yang tertutup bulu-bulu halus. Perlahan-lahan kuusap-usap, wajahnya terlihat lemas dan agak memucat seiring getaran nafasnya. Aku terhenti, lalu kubertanya kepadanya, “Kamu mau ML nggak?” tetapi ia menjawab ragu dengan isyarat seiring hasratnya. Lalu kupegang lengannya, dan kuajak ke kamar kakakku, sebab kamarnya ber-AC. Kunyalakan AC, dan ia bertanya, “Kulepas celana aja ya,” lalu kuanggukan daguku. Ia pun duduk di samping tempat tidur, lalu kuhampiri, kupeluk tubuhnya dari samping, kuraba dadanya, kukecup bibirnya, bibir kami akhirnya saling menyerang. Perlahan kudorong tubuhnya dengan tubuhku, akhirnya tubuhnya terebah dan ku tindih tubuhnya. Langsung penisku menyerang vaginanya, tapi tak berhasil karena terlalu licin.

Dengan sadar ia lalu memegang penisku, kakinya mengangkang lebar, lalu penisku diiring masuk ke dalam vaginanya. Secara cepat penisku masuk bersama birahi, ah lembut dan halus vaginanya. Segera ia melepas dekapan jemari yang membimbing penisku. Perlahan-lahan kukeluar-masukkan penisku, ia pun perlahan menyebut, “Aah, Ndi..” dengan desahannya. Tampaknya birahinya lebih tinggi dariku, lalu ia menggoyangkan pinggulnya agar lubang vaginanya dapat gesekan yang cepat dari penisku. Sesaat kulihat ia menegang, lalu merarik pantatku agar penisku dapat masuk dengan dalam ke vaginanya. Lalu ia tegang sekali dan tak bergerak, wajahnya memerah, putingnya terlihat mengeras, dan kurasakan penisku tergigit lubangnya yang lembut. Sesaat aku dapat menggesekkan penisku lagi, keluar-masuk dan akhirnya aku tak sempat mengeluarkan penisku dari vaginanya. Ah, air maniku keluar dengan cepatnya di dalam vagina Reyne, aku tak dapat bergerak, yang kurasakan kenikmatan yang dasyat, Reyne pun hanya dapat mendesah sambil merasakan semburanku di dalam tubuhnya.

Lalu kami istirahat dan setelah beberapa lama kami berbicara seperti semula. Kurasakan kenikmatan yang berbeda dari tubuh wanita, dan membuatku tertarik terhadap tubuh wanita. Keesokannya aku bertemu dengan Reyne, kebetulan aku membawa mobil, lalu kami jalan-jalan. Di saat berhenti ia sempat merangkulku, lalu mengecup bibirku, aku agak malu takut terlihat umum, lalu kuajak ia ke tempat sepi di suatu halaman yang rumahnya kosong. Lumayan halamannya luas dan sepi dari orang-orang, lalu bibir kami berperang saling mengalahkan, kaitan branya kulepas, kuangkat kaosnya, sesaat kulihat bra dari bahan seperti kaos yang berwarna merah dengan kembang-kembang. Lalu kuangkat sehingga terlihat kedua puting di ujung buah dadanya, kuraba, kuremas, kumainkan putingnya, lalu kulepas bibir kami dan kuhisap putingnya bergantian.

Sesaat aku terhenti, dan kurasakan hasrat penisku, tapi kurasa tempatnya tidak memungkinkan. Lalu kubuka resletingku dan kukeluarkan milikku, sesaat kemudian ia pun melihat, lalu kutanya, “Bisa hisap ini?” ia menggeleng dan terdiam sesaat, beberapa lama kemudian akhirnya ia memberi jawaban yang berbeda. Perlahan tangannya mendekap penisku, perlahan wajahnya menghampiri, lalu bibirnya mendekat penisku, perlahan mulutnya terbuka dan menelan ujung penisku. Mulai kunikmati, perlahan mulutnya menelan penisku, lalu perlahan dikeluarkan sedikit dari mulutnya, terkadang penisku dihisap habis, lalu secara bertahap penisku dikeluar-masukkan dengan cepat. Ah, kulihat matanya terpejam dan wajahnya memperlihatkan ia menikmatinya. Beberapa waktu kemudian aku merasakan puncak, seiring aku berkata kepadanya, “Nanti kalo sempet kita ML ya, tapi kayaknya aku mau muncrat,” perlahan penisku ditelan sedikit oleh mulutnya, lalu puncakku kurasakan. Air maniku menyembur di dalam mulutnya sampai habis, perlahan ia hisap dan telan penisku dan air maniku sampai habis, ah rasanya aku mulai menyukai caranya.

Kulihat ia agak lemas dan tegang, begitu juga aku, lalu aku bertanya, “Nyari tempat ML yuk!” lalu Reyne menjawab sambil mendekati penisku, “Boleh!” lalu ia membersihkan penisku dengan lidah dan mulutnya. Bibirnya menelan dan lidahnya menjilat lubang kencing di ujung penisku, ia telan semua cairan yang tersisa hingga penisku bersih, lalu ia usap dengan tissue supaya kering. Sesaat kami menutup badan ke keadaan semula, dan kami pergi dari tempat itu. Akhirnya kami menemukan tempat terdekat untuk ML, kami ke sana, keadaan mulai gelap, suasana memancing hasrat kami. Tanpa pemanasan kami sudah terangsang.
Kutanya, “Main nggak?”
“Mmm.. langsung yuk!” sahutnya.

Lalu ia melepaskan pakaiannya dan merebahkan kursi seiring badannya. Lalu kubuka celanaku dan bergeser ke arahnya, lalu kutindih tubuhnya yang samar-samar terlihat dan hanya dapat dirasakan kulitku. Awalnya kedua pahanya agak mengapit pahaku, lalu perlahan kakinya diangkat ke dashboard, ujung dengkulnya melebar sampai habis. Tangan kiriku memeluk pinggangnya yang ramping, tangan kananku menikmati dada kirinya, bibir dan lidahku bertahap menikmati dari pipi, kuping, leher, dagu dan akhirnya berperang melawan bibir dan lidahnya. Seiring dengan itu tangannya mendekap penisku dan perlahan memasukkan ke dalam vaginanya, ternyata ia sudah basah. Perlahan gerakanku, tetapi ia langsung bergoyang cepat, rupanya ia menyukai gerakan cepat, tentu saja aku harus adil, kukeluar-masukan milikku dengan cepat, terlihat ia menikmatinya.

Desahannya yang perlahan pun mulai mengencang dengan tegang seiring menyebut namaku. Akhirnya kami sampai puncak dan selesai dengan permainan ini. Tampaknya aku menyukai Reyne karena permainan dan pengalamannya yang tidak kudapatkan dari Veni.

Akhirnya hari esok pun tiba, di siang hari tepatnya di rumahku terkadang ada beberapa anak sekolah lewat, kebetulan sepupu istriku waktu itu sering lewat depan rumahku. Sebenarnya kami juga berpacaran, tapi karena aku dan Veni lebih dekat maka aku dan Indi jarang bertemu sebagai seorang pacar walau belum ada kata putus. Awalnya kami hanya menyapa, tapi beberapa hari pun lewat, akhirnya kami mulai mengobrol, dan mungkin karena ada perasaan suka di antara kami. Akhirnya ia pun sering mampir ke rumahku, dari hari ke hari sepulang sekolahnya. Akhirnya terungkap kalau memang masih ada perasaan suka di antara kami, akhirnya kami akrab dan terus akrab. Awalnya kami sengaja hanya berteman dan kami mengerti bila aku berpacaran dengan sepupunya, istriku sekarang. Tapi perasaan saling suka tak bisa kami bendung, rasanya kurang bila kami belum bertemu.

Kami pernah jarang bertemu, dan kemudian kami bertemu lagi, saat itu ia pulang sekolah bersama temannya, lalu ia berpisah dan mampir ke rumahku. Akhirnya kami mengobrol dan masuk ke dalam rumah supaya nyaman, dan kami berbincang di dalam. Entah mengapa rasa sukaku mulai bertambah, kulihat ia bersama sosoknya dari ujung rambut sampai kaki. Agaknya gejolakku mulai bertambah, kupegang tangannya, kubelai rambutnya, perlahan mataku mulai tertarik memandangi buah dadanya. Akhirnya kami mulai berbicara sambil berpandangan, kutatap matanya hidungnya, giginya yang putih dan rapi, bibirnya yang merah pucat, pinggangnya, betisnya, pokoknya semuanya. Sesaat dia sadar dengan tatapan mataku yang tertuju, dan ia menjadi salah tingkah. Perlahan kami duduk sangat dekat, sampai aku dapat merangkul dan memeluk tubuhnya dari samping dan belakang, tampaknya ia menyukainya.

Perlahan hasratku memuncak, terasa hasratku untuk menjamahnya, dan tampaknya suasana dan kondisi sangat memungkinkan. Pertama, kudekap dan kurangkul tubuhnya, kucium pipinya, kurasa ia memberi lampu hijau kepadaku. Rasanya tubuhnya sudah kumiliki, perlahan kudekap pinggangnya, tanganku satunya mengusap wajahnya yang manis, lalu ke pipi, kuping lalu turun perlahan ke leher pundak, lalu ke pinggang sambil sengaja kulewati buah dadanya dengan sentuhan telapak tanganku. Sesaat kulepas pelukanku, lalu badanku ke depan, aku pura-pura melihat-lihat dan memegang sesuatu di meja, lalu kusenderkan lagi badanku ke kursi seiring sikuku yang seolah-olah tidak sengaja untuk menyentuh buah dadanya. Akhirnya sikuku menyentuh dadanya dan ia agak kaget bercampur aduk, kurasakan empuk di sikuku. Dengan pura-pura aku meminta maaf karena aku tak sengaja, lalu kurangkul kembali tubuhnya.

Kurasakan getaran di jiwaku, perlahan kucium pipinnya, kupingnya, lehernya, dagunya dan akhirnya kutuju bibirnya, sesaat dia kaget karena kukecup bibirnya. Lalu ia menghindar dari bibirku sesaat sambil berkata “Mas!” lalu dia terdiam dengan beribu benak di pikirannya. Lalu perlahan kuhampiri wajahnya kembali, dan kukecup bibirnya. Perlahan ia menolak, menghindar dengan wajah bingung. Lalu tanganku ke dagunya dan kutahan, perlahan bibirku mulai dapat menikmati bibirnya karena ia mulai tidak menolak. Perlahan kurasakan bibirnya, lidahnya, dan akhinya kunikmati. Awalnya ia terdiam dan pasrah, beberapa saat kemudian tangannya mulai memegang dan megelus lengan dan tubuhku, lalu bibir dan lidah kami saling bersaing seiring berebutan air liur. Tanganku tak bisa diam rupanya, kuelus-elus pinggangnya, perut, lalu kuraba dadanya.

Perlahan tangannya memegang tanganku di dadanya dan bibirnya perlahan ia lepaskan bersama tanganku.
Lalu ia berkata, “Mas..!” dengan wajah yang campur aduk.
Sahutku, “Ada, apa?”
“Jangan dulu Mas!” jawabnya.
Lalu kujawab kembali, “Jangan takut!”
Lalu kuhampiri lagi bibir dan dadanya, tampaknya ia agak menolak dan secara perlahan dan akhirnya ia malah menikmatinya.

Akhirnya hubungan kami bertahap dari hari ke hari, akhirnya kumulai mendapatkannya dari meraba dadanya, meremasnya, melihatnya secara langsung, dan menghisap kedua buah dadanya. Aku selalu menikmati dadanya dan hampir setiap saat rumahku kosong saat bersamanya, hampir tak pernah buah dada dan putingnya tertutup, karena selalu kujamah. Pernah di saat aku menikmati tubuh atasnya yang polos, di saat itu ia hanya mengenakan CD dan roknya, tepatnya di dalam kamarku. Kami hanya dapat bercumbu di kamar, karena saat itu di rumahku ada pembantuku yang baru. Kurasakan birahiku memuncak saat aku menindih tubuhnya di tempat tidur, tanganku tak kuasa dan akhirnya mengangkat roknya dan perlahan mencari celah dan menyusup di CD-nya. Dengan cepat ia menahan tanganku, sambil berkata, “Jangan yang ini, aku masih perawan,” dan kujawab, “Nggak Say, aku nggak masuk kok, cuma di luar, janji deh.”

Perlahan ia lepas tangannya. Jemariku akhirnya leluasa mengelus-elus bulu dan belahannya, sampai kurasakan belahannya licin dan jariku basah. Akhirnya birahi kami terus bertambah, perlahan kulepas CD-nya. Dengan cepat tangannya menahan tanganku kembali dan dengan lemas ia berkata, “jangan aku masih mau perawan, jangan Mas!”
Dengan perlahan kujawab, “Aku cuma mau liat tubuhmu langsung, aku nggak bakal masukin deh, itu kamu tetep utuh, aku janji deh!”
Perlahan ia pasrah dan menjawab, “Aku udah ngasih banyak, emang belom cukup?”
Ucapku, “Aku rasa belom, aku janji nggak ngerobek selaput kamu, tapi bolehkan kubuka semuanya.”
Ia pun menjawab, “Gimana ya, boleh .. asal kamu janji.”

Lalu perlahan kubuka CD dan roknya. Mataku perlahan menerawangi tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, kulihat rambut, wajah, leher, pundak, dada, perut, pinggang, bulunya, paha, dengkul sampai ke ujung kaki. Tampaknya tubuhnya memang mulus dan lebih dari yang dimiliki Veni.
“Ndi, badan kamu bagus ya,” ucapku pelan.
“Masa! Makasih ya,” ucapnya dengan tegang dan lemas.
Kutatap matanya, tanganku tak ketinggalan kuusap-usap tubuhnya kemudian kami berciuman. Tampaknya ia terbawa, kunikmati bibirnya, kupingnya, lehernya, pundaknya, dada dan putingnya, perutnya akhirnya kulewati bulu hitamnya dan kucium kedua pahanya yang putih lalu belahan di selangkangannya.

Perlahan Indi menegang, dagunya terangkat dan kemudian dadanya terangkat seakan kedua payudaranya membusung memamerkan diri, kurasakan Indi menikmati sentuhan bibirku. Kemudian bibirku menciumi belahan Indi, kurasakan ia menggeliat-geliat dan kedua tangannya mengelus dan membuai rambutku. Kedua tanganku memegang dengkulnya dan perlahan membuat kedua kakinya mengangkang lebar sehingga belahannya agak terbuka. Detil demi detil kulihat bagian di belahan tubuh Indi, lalu kuhampiri tonjolan yang ada di ujung belahan Indi, kurasakan perbedaan dari beberapa cewek yang kusentuh, tampaknya Indi memiliki tonjolan dan sama seperti Reyne tetapi berbeda dengan Veni yang tidak memiliki tonjolan.

Kucium, kukecup, lalu lidahku perlahan keluar dan menyentuh tonjolan itu, kudengar Indi mendesah dengan kaget. Setelah itu lidahku mulai bermain dan Indi menegang dan mendesah dengan tegang, kujilati tonjolan itu sampai basah. Lidahku bermain terus lalu turun ke arah bibir vagina Indi, dengan desahan yang tegang Indi berkata, “Mas Andi, ahh!” Lidahku menjilati bibir vaginanya dan perlahan kucoba masuk ke liang vaginanya yang masih agak sempit dan kurasakan selaput dara Indi, ah.. kunikmati keutuhan selaput daranya. Desahan dan ketegangan Indi serta belaian tangannya terus membuat nafsuku bertambah, rasanya keinginanku bertambah, kurasakan gejolak ingin menyetubuhi dan merasakan liang vaginanya. Kurasakan hasratku tak tertahan lagi.

Perlahan badanku kusejajarkan dengan tubuh Indi, bibir dan lidahku mulai naik dari liang vagina, tonjolannya, bulunya, perut dan pusarnya, belahan payudaranya, lehernya, lalu ke kupingnya dan perlahan kucium dan kumasukkan ujung lidahku ke lubang telinga Indi dan kurasakan ia menegang kaku dan tidak dapat bergerak. Kurasakan kedua kaki Indi mengapit kedua kakiku dan kedua tangannya yang lembut mengelu-elus punggungku. Ah, kurasakan sentuhan Indi membuatku jadi nafsu. Ingin aku menyetubuhinya, pelan-pelan kugesek-gesekkan milikku dengan belahan Indi sehingga kurasakan cairan membuat basah milikku dan kurasakan licin dan lembut waktu kugesek-gesekkan milikku di belahannya. Perlahan kubuat kembali kakinya mengangkang dengan kedua pahaku, sehingga kurasakan kelembutan belahannya dan kurasakan bulu-bulu kami basah kuyup. Mungkin karena kulihat Indi menikmati percintaan ini maka tanpa berpikir lagi kuikuti nafsuku dan aku bertanya, “Ndi, masuk ya?” lalu Indi terlihat ragu dan bingung, namun karena gairah kami yang memanas ia hanya dapat menunggu untuk menikmati kelanjutan percintaan.

Ia memasrahkan dirinya kepadaku, terlihat ia tidak bisa berpikir dan hanya terus melayang jauh menikmati semuanya, sesaat ia berkata, “Mas Andi!” sambil bergeliat dan merasakan gairah serta rangsangan di seluruh tubuhnya. Aku masih bingung, lalu kedua tanganku menghampiri pantatnya, kudekap, kuremas, lalu kugesekan kembali milikku di belahannya sambil perlahan kugelitiki lubang anusnya dengan ujung jariku. Sedikit demi sedikit cairan dari daerah vagina Indi kualiri ke lubang anus Indi sehingga terasa licin dan jariku dapat masuk ke anusnya. Akhirnya jemariku dapat keluar masuk dengan mudah di anusnya yang licin, terlihat Indi menikmatinya dan desahan yang tegang ia keluarkan dengan suara yang menggairahkan. Perlahan penisku terhunus dan siap menembus bibir vaginanya yang lembut. “Ndi, masuk ya?” ucapku dengan bergetar. “Terserah Mas!” ucapnya tanpa bisa berpikir karena dikuasai nafsu dan rangsangan sehingga ia terbawa melayang dan pasrah menikmati kejadian ini.

Perlahan penisku yang terhunus mendekati bibir vagina Indi dan perlahan kurasakan lembut bibir vaginanya, perlahan ujung penisku mencoba masuk dan kurasakan agak tertahan, kulihat Indi mengemut bibir bawahnya dan dagunya terangkat tinggi sambil terlihat menahan nafas. Ah, kurasakan lembut di ujung penisku. Sesaat aku tersadar akan janjiku, namun birahi ini tak tertahan. Lalu, “Ndi, yang belakang boleh ya?” sahutku karena tak dapat menahan keinginan milikku yang ingin merasakan dagingnya. “Mas Andi!” dengan nada pasrah ia jawab keinginanku.

Lalu perlahan ia tengkurapkan tubuhnya dengan iringan tanganku, kulihat rambutnya terurai menutup wajahnya. Kutindih tubuhnya yang elok, kuciumi lehernya, pundaknya, kupingnya sambil tanganku meremas-remas dan memainkan buah dadanya yang terhimpit tubuhnya. Kemudian kududuk di bawah pantat Indi yang berbentuk gunung, lalu kubuka pantat Indi sehingga belahan yang menutup anus Indi terbuka dan anusnya agak terlihat lubangnya. Penisku yang terhunus perlahan mencoba masuk ke liang anus Indi, tetapi awalnya sulit masuk walaupun sudah licin, dengan sabar kucoba dan beberapa lama kemudian kurasakan anus yang agak rapat perlahan-lahan dapat terbuka seiring ukuran penisku. “Mas Andi, ahh!” sahut Indi seiring penisku yang masuk ke dalam anusnya. Akhirnya kurasakan tubuh Indi, perlahan kukeluar-masukkan penisku di anusnya.

Kurasakan empuknya pantat Indi, lembutnya tubuhnya, seluk beluk tubuhnya yang membuat birahiku tertuang, perlahan dan perlahan dan akhirnya penisku mudah keluar-masuk di anus Indi. Desahan demi desahan Indi keluarkan dan membuat nafsuku tertuang, akhirnya kusetubuhi tubuh Indi, kurasakan lembutnya kedua paha dalam belakang Indi di depan kedua pahaku. Bokongnya terangkat seolah meminta sentuhan dari penisku, tidak lama aku bermain di lubang belakang Indi sampai kurasakan semua tubuhku menegang dan kulepaskan air maniku di dalam tubuhnya. Indi menegang dan tubuhnya terdiam lemas sambil mengeluarkan rintih dan desahan karena merasakan air maniku yang menyembur di dalam tubuhnya.

Beberapa hari kemudian kami melakukan lagi, mungkin karena tempatnya yang tidak sesuai maka setiap masuk lubang belakang aku selalu menggunakan pengaman, meski begitu kami menikmatinya dan mungkin karena selaputnya terus kami pertahankan. Setelah beberapa wanita kutiduri akhirnya akumulai ketagihan dan banyak setiap wanita yang kukenal akhirnya akrab sampai ke ranjang dan setiap melakukan kuabadikan dengan handycam-ku, untungnya mereka semua tidak mengetahui hal ini. Kurasakan kelemahanku dan kurasakan perbedaan kenikmatan, kelembutan dan kepuasan yang kudapat dari masing-masing tubuh wanita. Untunglah setiap wanita yang kusentuh tidak ada yang hamil.

Sampai suatu saat aku dan Veni menikah dan kami tinggal di rumah sendiri, pisah dari orang tua. Namun Veni memintaku supaya Indi dapat tinggal bersama dan aku menyanggupinya. Sikap Indi dan aku biasa saja karena kami sadari bahwa aku dan Veni sudah terikat. Hari demi hari berlalu dan ternyata perasaan aku dan Indi masih sama dan perasaan kami muncul lagi, entah mengapa kami mulai akrab seperti dulu. Suatu saat aku dan Indi hanya berdua di rumah, Veni melakukan aktivitasnya seperti biasa yaitu bekerja di kantor. Mungkin karena rasa jenuh aku memilih istirahat di rumah sebentar. Sesaat aku dan Indi berbincang lalu entah mengapa perasaan yang dulu muncul, lalu kami duduk berdampingan. Kami burdua menonton TV, tangan kami mulai bersentuhan dan rasa gairah ini muncul kembali, mungkin karena aktivitas sex aku dan Veni sudah tak berjalan sehingga kurasakan kebutuhanku. Terlintas dalam pikiranku, apa salahnya bila kudapatkan dari Indi karena aku membutuhkannya, kurasakan perbedaan bila belum menikah sex hanya untuk senang-senang tetapi berbeda bila sudah menikah karena sudah menjadi kebutuhan. Terpikir di benakku tak salah bersentuhan asal tak bersetubuh, mungkin efisien untuk melepaskan kebutuhanku.

Kami saling bergenggaman dan mengelus-elus dengan jemari, salah satu tanganku merangkul tubuhnya, ah kunikmati tubuhnya seakan birahiku tersalurkan. Tanpa kompromi penisku mengejang, muncul keinginan untuk bercumbu dengannya, selintas kuucapkan,
“Andai aku masih bisa merasakanmu Ndi!”
“Kenapa Mas, Mas Andi kenapa?” ucapnya dengan lembut sambil tangannya mengelus pipiku dan yang satunya mengelus-elus di dalam genggaman jemariku.
“Enggak, kamu suka pake celana pendek bikin Mas terangsang,” dengan nada gerogi kuucapkan.
“Masa sih, emangnya kenapa Mas!” perlahan tangannya menaruh tanganku di atas pahanya yang mmhh..
“Kulit kamu lembut ya Ndi,” sambil kuusap dan kuraba-raba seluruh pahanya.
“Mas suka!” sambil salah satu tangannya mengelus lenganku yang sedang menikmati pahanya.

Tanpa kusadari mataku mulai tertuju ke buah dadanya.
“Ndi dada kamu kayaknya tambah besar,” ucapku dengan agak malu.
“Kan umurku nambah Mas, yang pasti udah ganti ukuran dong, memangnya kenapa Mas!” ucapnya dengan lembut.
“Eh, enggak, andai bisa..!” sambil tanganku mengelus pundak dan perlahan agak turun mendekati dadanya.
“Mas Andi!”
Tampaknya Indi mengerti ucapku, dan perlahan tanganya menghampiri tanganku dan mengajak ke dadanya sehingga kurasakan telapak tanganku menyentuh salah satu buahnya.

Tanpa berpikir panjang lebar kuraba-raba dadanya, kuremas dan aah rasanya aku memilikinya lagi. Salah satu tanganku tak mau ketinggalan, kuelus-elus selangkangannya lalu kuucapkan, “Makasih ya Ndi.”
“Buat Mas..” sambil tangannya mengelus pipi dan juga tanganku di dadanya.
Perlahan kuhampiri wajahnya, lalu bibirku mendekati pipinya dan kucium, lalu ke lehernya dan dagu Indi terangkat tinggi, lalu kupingnya, lehernya kembali dan merambat ke bibirnya. Bibirnya kukecup, kemudian ia memberikan respon dan kami saling memberi bibir dan lidah, kami saling mengecup, menjilat, dan menghisap liur dari mulut kami. Tangan Indi kupegang dan kuajak ke arah penisku, rupanya Indi mengerti dan perlahan ia elus-elus penisku yang sudah mengeras, lalu ia mendekap dan memainkan dengan lembut. Mungkin sudah lama aku tidak bersetubuh dengan Veni karena kesibukan kami sehingga setiap bertemu kami lelah dan sungkan untuk berhubungan, dan mungkin aku mendapatkan sesuatu dari Indi yang tidak kudapatkan dari Veni.

Tanganku berpindah dari dada Veni ke arah kaitan BH-nya, dan yang satunya dari selangkangan perlahan mengangkat kaos depan Indi sehingga BH-nya dapat kulihat jelas bersama belahan dadanya yang lebih besar dari yang kurasakan dulu. Kuremas dadanya dengan tangan kiriku dan tangan kananku melepas kaitan BH-nya dan menyusup ke depan sehingga BH-nya terangkat dan selanjutnya kumainkan kedua putingnya. Tampaknya Indi suka, lalu tangan kiriku turun dan menyusup ke dalam celana Indi, kurasakan rambut kemaluannya dan perlahan menuju ke tonjolan sensitif milik Indi. Kusentuh dan kumainkan dengan jemariku, Indi pun mengeluarkan suara “Hhmm..” dengan nikmatnya di saat berciuman, matanya terpejam, tangannya terus mengelus-ngelus tubuhku. Kurasakan tangan Indi perlahan mengeluarkan penisku dari celah celanaku sehingga membusung keluar, dan mendekap dengan jemarinya lalu mengayunkan dengan lembut.

Lama-kelamaan kurasakan jariku basah dan selangkangan Indi licin, lalu kugesek-gesekkan jariku di tonjolan Indi, tangan kami saling memainkan dan merangsang milik kami yang sensitif. Setelah beberapa lama Indi berhenti dan berbisik “Mas, udah dulu, di kamar Indi yuk!” Lalu Indi berdiri dan menuju ke kamarnya sambil berkata, “Cepat ya, kutunggu.” Lalu aku bergegas ke kamarku dan membawa pengaman ke kamar Indi, sesaat kusampai di depan pintu kamar Indi kulihat tiada sehelai benang pun di tubuhnya. Sesaat birahiku memuncak, kulihat tubuh yang lebih indah dari yang kulihat dulu, Indi sadar aku sampai di depan pintu dan ia menghampiriku lalu menarik tanganku dan mengajak ke dalam kamarnya.

Kemudian kami berpelukan dan berciuman sambil tangan kami meraba-raba dengan leluasa. Lalu kami duduk di pinggir tempat tidur Indi, dan kubuka bungkusan pengamanku, sesaat tangan Indi menghentikan tanganku yang ingin memakaikan pengaman di milikku. “Mas aku pengen nyoba,” dengan tangannya yang menunjuk milikku lalu ke arah bibirnya. Perlahan kuanggukkan daguku, dan ia menyambutnya dengan wajahnya yang menghampiri milikku, wajahnya mendekat, mulutnya terbuka dan lalu menelan penisku. Ahh kurasakan lembut mulut dan lidahnya yang perlahan menelan penisku, lalu ia memainkan penisku dengan mulutnya sesaat lalu berkata, “Udah dulu ya, aku belum biasa, belum tau caranya.” Lalu kami berciuman dan kami bermain seperti dulu (main di liang belakang) sampai kurasakan puncakku.

Lalu kucabut dan kukeluarkan penisku dari liang belakang Indi, lalu Indi bertanya, “Udah Mas?” dengan nada pelan dan halus. “Sebenarnya belum Ndi, soalnya bukan di tempatnya, tapi makasih ya!” ucapku. Lalu tangan Indi menghampiri milikku dan melepaskan sarung pengaman di penisku. Wajahnya menghampiri milikku sambil berkata, “Belum ya Mas?” lalu mulutnya terbuka dan menelan penisku sampai cairan yang ada ditelan habis oleh mulutnya lalu ia keringkan dengan kain yang ada di dekat kami, terlintas dibenakku kalau Indi cepat mengerti. “Mas pengen apa, kenapa belom puas?” ucapnya sambil jemarinya berayun-ayun memainkan penisku. “Aku pengen yang di tempatnya,” sahutku sambil dengan perasaan tidak enak. “Yang ini ya Mas?” sambil menunjuk kemaluannya. “Aku belom pernah.. tapi kalo Mas bisa puas dan pengen aku kasih buat Mas..” dengan nada pelan dengan ajakan. Rasanya diri ini terangsang oleh ajakannya.

Perlahan wajahku menghampiri bibir vagina Indi yang basah, lalu kujilati dan kadang-kadang agak kumasukkan lidahku ke dalam liang vagina Indi sampai kurasakan selapur daranya. “Ouh.. ouh.. ahh..” sahut Indi dengan tegang yang bercampur gairah. Sampai akhirnya kuhampiri bibir vaginanya yang agak terbuka sempit dengan penisku yang terhunus. Kumasukkan penisku perlahan, awalnya agak sulit tapi kusabar dengan perlahan dan kurasakan lubang yang mengikuti ukuran penisku, kurasakan penisku agak tertahan dan perlahan melepaskan sesuatu yang lengket di liang Indi secara perlahan-lahan sampai kurasakan tertelan di dalam liang Indi. Seiring kumasukkan penisku Indi hanya dapat merintih dan mendesah dengan tegang merasakan penisku masuk yang melepaskan beberapa lengketan yang agak menahan penisku saat masuk.

Akhirnya penisku tertelan di dekapan tubuh Indi, Indi menegang dan akhirnya melemas seakan pasrah dan melayang tinggi dan mengucap dengan gemetar campur lemas, “Mas, ini kado buat Mas Andi,” sambil tangannya mengelus-elus punggungku dengan lembut. Kurasakan kado yang istimewa dari Indi, membuat birahiku benar-benar dibuai. Kurasakan liang Indi yang lembut dan seakan mendekap penisku, lalu perlahan-lahan aku keluar-masukkan penisku di liangnya. “Ouh.. ahh.. ouh, Mas Andi..” hanya itu yang dapat Indi ucapkan dengan nada tegang dengan gairahnya yang merangsang. Akhirnya penisku bermain dengan cepat dan kami berdua benar-benar melayang jauh, beberapa lama kemudian kurasakan liang Indi mendekap dan kemudian kurasakan seakan penisku didekap erat seolah-olah digigit oleh liang vagina Indi.

Penisku seakan tak boleh bergerak sama sekali didekapan liang Indi, kedua tangan Indi memelukku dengan erat, kedua kakinya dari mengangkang menegang dan lurus seolah-olah ingin menari balet, lalu terucap di bibirnya dengan panjang, “Ouh.. Mas Andi..” Kurasakan genggaman Indi mulai melonggar, dan perlahan dapat kukeluar-masukkan penisku kembali, tampaknya Indi pasrah dan masih menikmati seolah membuatnya melayang tinggi. Perlahan setelah beberapa lama kurasakan dekapan liang Indi yang tidak erat, dan kurasakan puncakku, saat ingin kukeluarkan penisku tampaknya dekapannya kembali agak erat dan membuat aku enggan mengeluarkannya. Sesaat di dalam dekapan Indi kurasakan cairanku keluar menyembur di dalam tubuh Indi, dan Indi mendesah dan merintih campur nikmat, “Ouh.. ah.. Mas Andi..” sambil merasakan semburanku dan dekapan liang Indi semakin kuat bersama kedua dekapan tangannya.

Tanpa kusadari ternyata Veni istriku telah datang dan masuk ke rumah, perlahan Veni masuk ke kamar Indi. Saat itu tubuhku masih di atas tubuh Indi dengan penis yang masih tertancap di tubuhnya, perlahan aku dan Indi tersadar akan kedatangan Veni dan sesaat muka kami pun memucat. Pelan-pelan kuberdiri dari ranjang dan mencabut penisku, Veni mendekat dan sesaat salah satu tangannya melayang tepat ke pipiku “Plak!” bunyi suara yang terdengar. Suasana hening datang seketika di dalam kamar, perasaanku dan Indi mungkin sama, kami diam dengan wajah pucat dan penuh dengan rasa bersalah terhadap Veni. Aku terdiam dengan tubuh polos dan tertunduk, tanpa kusadari dan tak kuduga dengan cepat Veni memeluk tubuhku dan mendekapnya dengan erat. Sekilas kulihat Indi masih terdiam dengan tubuh polosnya yang masih menantang, wajahnya memucat dan terlihat tidak mengerti harus berbuat apa, yang ada hanya menunggu kejadian nanti.

Terdengar pelan bisikan Veni di kupingku, “Mas, kenapa begini, kenapa Mas!” dengan nada yang setengah menangis. Sesaat aku terdiam dan kemudian terucap dari bibirku, “Aku tak tahan, aku butuh,” dengan nada bersalahku. “Mas Andi, maaf ya, ini juga karena aku,” ucapnya dengan nada yang agar bersalah juga karena mungkin sebulan kami tidak berhubungan karena aktivitas. Kemudian Veni mengajakku keluar dari kamar Indi dan menuju kamar kami, sesaat kupalingkan wajahku ke arah Indi dan kuucapkan terima kasih tanpa suara sedikitpun dan Indi menjawab dengan agak tersenyum.